Maqdir Ismail dan Soliditas Keluarga Besar UII

Oleh : Agustam Rachman

TERPERCAYANEWS.com – Suatu sore diawal bulan September 2015. Mobil yang kami tumpangi bersama kak Muspani dan Bang Ucok (Hotma) bergerak merayap dijalanan perlintasan rel kereta dekat pasar rumput Jakarta Pusat.

Tujuan kami adalah bertemu dengan seorang pengacara terkenal Ibu Kota yaitu Bang Maqdir Ismail.

Waktu itu Bang Maqdir baru saja menang prapradilan saat mendampingi budi gunawan melawan KPK.

Waktu masih kuliah semester awal saya pernah membaca kisah bang maqdir tahun antara tahun 1983-1985, rutin ‘mengangkut’ para preman jogja ke Jakarta naik kereta untuk diamankan dikantor YLBHI guna menghindari penembak misterius (petrus).

Tentu kalau bukan bernyali besar, tidak mungkin bang maqdir berani melakukan tindakan beresiko itu.

Sebab jika nasib kurang beruntung bisa saja bang maqdir nasibnya sama dengan para preman yang ditembak petrus dan mayatnya banyak ditemukan diselokan.

Oya kembali ke cerita awal, setibanya kami dikantor hukum bang maqdir, kami diterima oleh staff di front office, setelah menyampaikan bahwa kami sudah ada janji bertemu dengan bang maqdir, kami diminta menunggu diruangan, mirip ruang rapat.

Tak lama muncul orang yang kami tunggu, dengan baju batik yang dominannya warna kuning emas dia nampak lebih muda dan enerjik walau sebenarnya lelaki kelahiran 1954 itu sudah tidak muda lagi.

Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami selanjutnya bang maqdir banyak memberikan saran dan petunjuk atas masalah yang kami sampaikan

Berikutnya kami diskusi ringan, satu hal yang membuat saya terkejut sekaligus kagum. Ternyata dikantor itu ada 21 lawyer. 20 orang adalah alumni UII Yogyakarta dan 1 orang lawyer asing

Dalam hati saya berpikir, betapa solid dan kompaknya alumni fakultas hukum UII.

Tentu saya pribadi, sebagai alumni Fakultas Hukum Universitas Bengkulu sangat ingin hal yang sama terjadi pada alumni almamater saya.

Saya bertanya pada banyak alumni fakultas hukum UII perihal soliditas mereka.

Kisah heroik tahun ’78 dimana kampus UII dikepung panser tentara dan 5 mahasiswa ditangkap termasuk bang maqdir karena melawan Suharto dan terpaksa menyelesaikan skripsinya dipenjara selalu disampaikan kepada mahasiswa baru saat Ospek. Bahkan cerita Prabuningrat rektor UII yang berani mengusir pasukan tentara itu menambah heroisme itu. Sungguh sebuah soliditas antara mahasiswa dan dosen yang jarang ditemukan.

Dibangun kebanggaan bahwa keluarga besar UII khususnya Fakultas Hukum adalah kumpulan orang-orang berani sekalipun menghadapi tentara bersenjata

Cerita heroisme UII terus diabadikan mirip tradisi dodaidi di aceh dimana seorang ibu menidurkan anaknya sambil bersenandung. Dalam senandungnya ia bercerita tentang para pahlawan aceh yang gagah berani melawan penjajah. Cerita pada tradisi dodaidi memotivasi kaum muda aceh untuk berani angkat senjata mengikuti jejak keberanian para pahlawan aceh.

Penulis adalah pengamat sosial

Pos terkait