Menyederhanakan Perspektif ‘Kemiskinan’ di Bumi Raflesia

  • Whatsapp

Oleh : Prissky

Apa yang ada di pikiran kita ketika kita mendengar kata ‘miskin’? bisa jadi gambaran pertama yang muncul adalah kesulitan, kesengsaraan, kepelikan, serta situasi buruk lainnya. Sebenarnya apa itu kemiskinan? Kita seringkali mendengar kata ini tanpa memahami bagaimana sebenarnya seseorang, sekelompok, atau suatu lembaga bisa disebut kaya, ataupun miskin. Bisa disebut berkecukupan, atau kekurangan.

Miskin dan kaya seringkali menjadi sesuatu yang relatif di mata kita. Kita bisa saja menganggap orang yang memiliki kendaraan mewah sebagai orang kaya, sedangkan yang tidak punya kendaraan mewah disebut miskin. Orang yang memiliki rumah mewah dan tanah dimana-mana disebut orang kaya raya, orang yang tidak punya tempat tinggal kita sebut orang miskin. Secara umum, pandangan orang akan miskin dan kaya bisa jadi berbeda. Terutama di Provinsi Bengkulu, dimana provinsi kita yang tidak terlalu besar ini seringkali membuat kita bisa dengan mudah melihat dan bahkan menghakimi perbedaan status sosial ekonomi seseorang. Tetapi, apakah kita bisa paham ketika itu menyangkut dengan Kemiskinan Provinsi kita sendiri, yaitu Provinsi Bengkulu?

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Kesimpulannya, berarti setiap provinsi memiliki standar pengeluaran untuk mengukur apakah penduduk tersebut termasuk ke kategori miskin atau tidak.

Untuk Provinsi Bengkulu itu sendiri, menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2021, ada sekitar 306.000 penduduk yang dikategorikan sebagai penduduk miskin. Itu artinya, ada sekitar 306.000 penduduk yang memiliki pengeluaran perbulan dibawah rata-rata, dan kira-kira berapa standar pengeluaran perbulan yang dimiliki Provinsi kita agar kita bisa mengkategorikan seseorang termasuk ke penduduk miskin atau tidak?

Provinsi Bengkulu memiliki standar pengeluaran perbulan perkapita sebesar Rp 530.382,00. (Badan Pusat Statistik, Maret 2021). Berarti untuk penduduk yang memiliki pengeluaran perkapita perbulan dibawah standar tersebut, merekalah yang dikategorikan sebagai penduduk miskin. Jadi, inilah data yang diakumulasikan setiap tahunnya oleh Badan Pusat Statistik, yang seringkali kita lihat dan bahkan kita baca tanpa sepenuhnya kita pahami kenapa ada angka-angka dan data-data tersebut mengenai angka kemiskinan terutama di Provinsi Bengkulu.

Sebenarnya apa penyebab dari angka-angka tersebut muncul dan dikategorikan sebagai kemiskinan di Provinsi Bengkulu? Banyak sekali faktor yang bahkan dapat kita simpulkan sendiri, terutama sejak Pandemi Covid-19 ini, dimana banyak sekali usia kerja yang belum bisa mendapatkan kerja yang layak karena terhambat berbagai situasi dari pandemi itu sendiri. Jika itu adalah hambatan untuk lapangan pekerjaan, maka sebenarnya apa solusi yang bisa kita tawarkan untuk membantu provinsi ini atau paling tidak meningkatkan taraf hidup kita sendiri?

Banyak sekali peluang lainnya selain lapangan pekerjaan formal, karena kita tahu itu adalah salah satu hambatan utama, yang bisa kita manfaatkan. Bekerja dari rumah saat ini adalah salah satu hal yang digadang-gadangkan oleh pemerintah kita, tapi apa yang bisa kita kerjakan dari rumah untuk mencukupi kebutuhan kita?

Kita bisa memulai usaha kecil-kecilan dari apa yang ada dirumah kita sendiri. Berjualan makanan secara online, bisa menjadi alternatif, karena meski pandemi, orang-orang juga tetap butuh makanan, bahkan lebih bagus jika sudah ada makanan yang saji, karena berbelanja kepasar bisa jadi beresiko tinggi untuk tertular virus Covid-19. Atau bisa juga berjualan barang-barang lainnya, seperti vitamin atau obat-obatan herbal, karena semenjak pandemi hal-hal tersebut menjadi semacam kebutuhan primer. Atau bahkan produk lainnya, terutama yang masih menjadi kebutuhan sehari-hari, sehingga roda ekonomi kita tetap bisa berputar, walaupun mungkin pendapatannya tidak langsung besar tapi lama-kelamaan tentu akan berkembang dan siapa tahu bisa membantu Provinsi kita lepas dari kemiskinan.

Penulis adalah peneliti muda RRP

 

 

 

 

Pos terkait