Wafatnya Rasul Dan Dimulainya Politik Pada Umat Islam

  • Whatsapp
Foto: Penulis

Oleh : Efri Yandi

Politik Islam setelah Rasulullah wafat menjadi pengetahuan penting bagi kita semua, terutama kalangan anak muda. Kenapa demikian, seperti dijelaskan Nasution (Palawa, 2006) pada waktu itu yang menjadi persoalan bukanlah teologis atau ilmu pengetahuan pasca wafatnya Rasul, tetapi yang mengejutkan adalah perdebatan siapa yang akan menjadi pengganti Rasullah dalam memimpin umat Mukmin ke depan. Peristiwa wafatnya rasul dan kemudian disusul wafatnya Khulafur Rasyidin menjadi referensi dunia Islam untuk menentukan pemimpin. Dengan dasar yang sama, referensi masa lalu tersebut dapat menjadi bahan pemikiran untuk melihat dinamika politik Islam saat kini.

Bagaimana politisi saat ini dalam memilih pemimpin menjadi persoalan yang juga menyisakan pertanyaan apakah cara yang mereka pilih sesuai dengan mekanisme dalam Islam. Hal ini dikarenakan agama islam adalah agama yang mayoritas di Indonesia. Maka menghubungkan pengambilan keputusan dalam memilih pemimpin dengan metode dalam Islam bukanlah sesuatu yang aneh untuk dipertanyakan. Pasalnya menurut pandangan penulis, para politisi saat seperti kehilangan idologi dalam menentukan kebijakan dalam menentukan kepemimpinan, seperti politik transaksional yang menjadi dasar untuk menentukan calon pemimpin yang dikehendaki. Bagaimana para sahabat menentukan pemimpin dapat menjadi salah satu contoh yang dapat kita teladani. Di mana dalam menentukan pemimpin umat para sahabat mengambil keputusan dengan bereferensikan perilaku Rasullulah yang sangat begitu bijaksana dan adilnya dalam menentukan sebuah keputusan untuk umantnya.

Maka menurut saya, kita harus berpikir ulang tentang bagaimana seharusnya memilih pemimpin saat ini.. Kenapa demikian? Karena saat ini masyarakatlah yang menentukan pemimpin mereka. Dan untuk itu masyarakat perlu mengetahui apa dasar dan bagaimana cara dalam Islam untuk memilih seorang calon pemimpin. Menurut Palawa (2006) ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk terpilihnya pemimpin dalam Islam. Yang pertama adalah seorang pemimpin harus memiliki nilai-nilai keadilan. Kedua, pemimpin tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah bersama. Ketiga, setelah pemimpin sudah terpilih maka kita harus memberikan kepatuhan kepada pimpinan tersebut sepanjang tidak menghalangi kita dalam menjalankan ibadah.

Sumber:

Palawa, Alimuddin Hassan. 2006.  Pemikiran Politik Islam: Tinjauan Sejarah Awal Islam Klasik.  Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 5, No. 1, Januari-Juni 2006 83

 

Pos terkait